Anas Urbaningrum dan juga Setya Novanto disebut oleh pengacara kondang, Elza Syarif berbagi peranan dalam kasus korupsi e-KTP (KTP elektronik). Elza sendiri  menyampaikan hal tersebut dalam kapasitasnya sebagai saksi dari jaksa penuntut umum yang ada di persidangan kasus e-KTP yang berlangsung di Pengadilan Tipikor di Jakarta pada hari Senin (26/2).

Berbekal Keterangan Nazaruddin

Kata Elza, pernyataan ini, berdasarkan pengakuan Muhammad Nazarudin, dan sudah ia tuliskan di berita acara pemeriksaan dirinya poin 10. Menurut dirinya waktu itu ia sedang mendampingi Nazaruddin dalam 38 kasus korupsi termausuk kasus Wisma Atlet. Dan Nazaruddin ketika itu mengungkapkan bahwa ada kasus korupsi e-KTP dan menggambarkan skema proyek itu.

“Anas bertugas memuluskan jalannya proyek, baik ke eksekutif dan juga legislative karena ketika itu Partai Demokrat sedang berkuasa,” ungkap Elza. “Kemudian Pak Setya Novanto bertugas mencari poengusaha guna menyukseskan proyek bandar togel hongkong ini dan untungnya dibagi 2,” lanjutnya.

Ia menambahkan, lantas Setnov memberi jaminan ke Andi Agustinus atau Andi Narogong bahwasanya konsorium PNRI bakal memenangkan proyek itu. sesudah itu, Andi Narogong dan juga Paulus Tannos, Direktur Utama PT Sandipala Arthaputra menjalankan proyek itu.

Di dalam persidangan , Elza juga menyebutkan dirinya juga pernah diajak bertemu oleh Miryam S Haryani sebelum menarik BAP pemeriksaan saksi. Dan ia juga bersaksi bahwa Miryam bercerita padanya tentang berita acara pemeriksaan atau BAP dirinya yang akhirnya bocor. Oleh karena itu berakibat Miryam mendapatkan banyak sekali tekanan dan juga ingin menarik BAP itu.

“Saya bilang, ‘kamu jangan sampai ya mencabut nanti bisa kena pasal memberikan keterangan tidak benar dikenakan maksimal 12 tahun,” saya bilang kalau tak sesuai direvisi saja,” ungkapnya lagi.

Akan tetapi pada kenyataannya, Miryam malah mencabut BAP dan akhirnya Elza baru mengetahui hal tersebut ketika beritanya muncul di media massa.

Elza sendiri pasalnya menjalani pemeriksaan saksi pada sidang kasus korupsi e-KTP dengan terdakwa Setya Novanto yang berlangsung di Pengadilan Tipikor, Jakarta. Selain Elza, ada juga mantan direktur utama Perum PNRI yakni Isnu Edhi Wijaya dan juga anak buah dari Direktur PT Java Trade Utama dari Johanes Richard Tanjaya yakni Jimmy Iskandar Tedjasusila atau Bobby.

Saksi Sebut Istilah ‘SN Grup’

Johanes Richard sendiri menyebutkan bahwa ada istilah ‘SN Group’ terkait dengan pembagian jatah proyek e-KTP. Dan hal itu diungkapkan oleh Johanes ketika beraksi dalam sidang kasus korupsi untuk kasus korupsi e-KTP. Terkait dengan ‘SN Grup’, ungkapnya, JOhanes sendiri mengaku tahu istilah tersebut dari anak buahnya yakni Jimmy Iskandar atau Bobby.

“Kalau fee saya tak tahu langsung. Saya mendapatkan info dari Bobi tentang SN Grup,” ungkapnya.

Lantas Jaksa Penuntut Umum menanyakan langsung maksud dari SN Grup. Namun Johanes tak langsung menjawab dan ia berkata tak tahu. “Apakah SN itu Setya Novanto?” tanya Jaksa Penuntut Umum. “Enggak tahu, agak rancu juga. Pokoknya Bobi bilang Senayan Grup, SN Grup,” kata Johanes.

Johanes pun mengatakan bahwa ketika itu diberitahu BObi juga kalau jatah fee untuk SN Grup itu sebesar 7%. Dan menurut dirinya Bobi tahu hal itu dari keponakannya Setnov yang mana juga merupakan Direktur Utama dari PT Murakabi Sejahtera yakni Irvanto Hendra Pambudi Cahyo.

“Ketika itu Bobi hanya berkata bahwa Irvanto pernah cerita soal Senayan dapat 7 persen,” katanya.